BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Yusri Umar, Aktivis Mahasiswa Yang Sukses Jadi Industrialis



Urang tuo Persatuan Keluarga Silungkang (PKS), Syahrial Syarif menilai, otobiografi Yusri Umar penting dibaca setiap wirausahawan Minang yang usahanya berbasis keluarga. Selain berhasil sebagai seorang industrialis dibidang farmasi, Yusri Umar dinilai Syahrial bisa keluar dari industri turun-temurun yang dilakoni mayoritas warga di tanah kelahirannya, Silungkang, Kota Sawahlunto, menenun songket.

Buku otobiografi Yusri Umar ini telah dilaunchingkan Ahad(6/1/2019) di Hotel Pangeran Beach Padang. Bersama Syahrial Syarif, pada launching tersebut dihadirkan para pembedah buku dari berbagai kalangan seperti, Asril St Amir (teman masa kecil), Hary Effendi Iskandar (akademisi FIB Unand) dan Firlan Mustafa (motivator).

Bedah buku ini dibuka Sekdaprov Sumbar, Alwis yang juga dihadiri Wakil Wali Kota Sawahlunto, Zohirin Sayuti serta berbagai lapisan masyarakat lainnya. Yusri Umar merupakan pendiri PT Nusantara Beta Farma. Produsen obat merah dan salisil talk. Selain itu, juga memproduksi berbagai produk di bidang farmasi lainnya.

Di halaman 201 disebutkan, ungkap Syahrial Syarif, konsep bisnis Yusri Umar yang membagi keuntungan perusahaan secara pertigaan yakni untuk pendiri, pengurus dan omset, sebuah pengalaman yang layak ditiru usahawan Minang yang kongsinya berbasis keluarga.

"Dinamis, kreatif dan petarung, adalah tiga kata yang pantas disematkan pada sosok Yusri Umar dalam membesarkan PT Nusantara Beta Farma," ungkap Syahrial dalam bedah buku otobiografi "Yusri Umar, Potret Seorang Industrialis".


Sementara, Hary Efendi Iskandar menilai, Yusri Umar adalah sosok industrialis yang dimasa mudanya juga seorang aktivis. Yusri saat kuliah di FMIPA Unand angkatan 76, pernah menjabat ketua HMI cabang Padang.

"Aktivis yang bertransformasi jadi pegusaha, hanya sedikit yang berhasil melaluinya hingga sukses. Menjadi pengusaha ini penting ditiru oleh mahasiswa yang sekarang jadi aktivis kampus. Jangan melulu mau jadi politisi dengan mengabaikan pembangunan pondasi ekonomi," tegas Harry Efendi.

Sedangkan Firlan Mustafa memaknai seorang Yusri Umar sebagai inovator. Dia menilai, sosok Yusri memang seorang penemu, berbeda, unik dan produk yang dihasilkannya diterima di pasar.

"Setiap kita berhak untuk bisa jadi seorang inovator, sebagaimana telah dilakoni Yusri Umar. Jangan berpikiran jadi PNS juga di zaman sekarang ini," tegasnya.

Firlan menilai, buku otobiografi ini akan jadi bukti sejarah perjalanan hidup Yusri Umar, yang bisa diketahui dan dipelajari generasi penerus di masa depan. "Di dalam ruangan ini, tak banyak yang punya otobiografi maupun melahirkan sebuah buku. Buku ini penting di masa depan. Saya bangga dengan lahirnya buku otobiografi bang Yusri Umar ini," ungkap Firlan.

Sedangkan Asril Sutan Amir, lebih banyak berkisah tentang kenangan bersama Yusri Umar semasa kecil di Silungkang, Kota Sawahlunto. Mulai dari berkelahi, bersekolah hingga semangat berdagang sejak kecil.

Penulis otobiografi, Fajar Rusvan mengungkapkan, buku ini ditulis dalam rentang waktu 1 tahun lebih. Mulai dari riset, wawancara hingga proses penulisan yang membutuhkan waktu selama lima bulan.

"Banyak pengalaman hidup menarik yang layak diteladani oleh generasi muda terutama yang berminat jadi pengusaha," ungkap Fajar.

Fajar merasa, lika-liku pengalaman bisnis yang dilalui Yusri Umar, penting diketahui serta dipelajari para calon enterpreneur yang telah dinukilkan dalam buku setebal 374 halaman ini.

Sumber : Valora News
« PREV
NEXT »

Facebook Comments APPID